Sobat kalian sudah pernah belum mengunjungi planetarium yang mungkin dekat dengan tempat tinggal mu?, pastinya sebagia besar pembaca di sini mungkin sudah pernah berkunjung ke planetarium, pasti seru kan di sana kita bisa melihat benda-benda langit seperti nyata di depan mata kepala kita.
Ap aitu planetarium…?
Planetarium adalah Gedung teater untuk memperagakan susunan bintang dan benda-benda langit, atap Gedung biasanya berbentuk seperti kubah setengah lingkaran, saat menonton show di planetarium kita bisa belajar mengenai pergerakan benda-benda di langit baik itu di malam hari ataupun di siang hari, dari berbagai tempat di muka bumi.Didalam ruang pertunjukan terdapat sumber gambar berupa proyektor planetarium, proyektor dapat memperagakan benda-benda langit sesuai waktu dan lokasi.
Sejarah singkat lahirnya planetarium
Lahirnya planetarium itu sendiri didorong oleh keinginan dari diri manusia yang senantiasa mencari tahu dan memahami hakikat kehidupan ini. Hal-hal yang terjadi di sekelilingnya berusaha dipahami dengan akalnya. Sejarah mencatat bahwa manusia sudah mulai memperhatikan benda-benda langit dengan karakternya masing-masing sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi –ribuan tahun dari sekarang. Pada waktu itu manusia telah mencoba membedakan benda-benda langit satu dengan lainnya. Manusia juga telah mengamati letak dan pergerakan benda-benda langit tersebut.Dalam proses memahami itulah, sejak sekitar dua abad SM dicoba dibuat alat-alat yang menirukan gerak benda-benda itu, yang juga berfungsi sekaligus untuk menguji ketepatan teori yang ada saat itu. Kemudian sekitar abad 17 telah dikenal alat peraga yang disebut planetarium, stellarium, tellurium, dan lunarium. Pada akhir abad 17 telah dibuat dinding bola yang permukaan dalamnya digambari bintang-bintang atau diberi lubang kecil-kecil untuk dilalui cahaya matahari sebagai penggambaran letak bintang-bintang (S.Darsa, 1992).
Planetarium kuno pertama adalah alat peraga atau model miniatur Tata Surya dengan menggunakan mesin mekanik, hasil karya tinggi dari tangan pembuat arloji. Alat peraga tersebut memang dibuat untuk mengenal waktu, dengan membuat peraga benda-benda langit yang bergerak yang dapat dijadikan acuan waktu astronomis. Dari sinilah cikal bakal planetarium.
Cara-cara yang sederhana ini kemudian memberi dorongan munculnya pikiran-pikiran inovatif untuk menciptakan sistem proyeksi cahaya pada dinding bola yang terus digunakan sampai saat ini. Alat peraga yang berupa mesin mekanik yang dapat menggambarkan gerak planet-planet mengelilingi Matahari dengan teliti terakhir dibuat tahun 1924, tidak dapat bersaing dengan sistem proyeksi cahaya yang dilengkapi dengan mesin-mesin penggeraknya.
Gagasan untuk membuat alat peraga dengan sistem proyeksi cahaya untuk menghasilkan gambaran langit mendekati sebenarnya ini giat dikemukakan oleh Max Wolf, astronom Jerman. Pada masa itu, kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang optik, instrumentasi, dan listrik memungkinkan untuk merealisasikan gagasan ini. Perusahaan Carl Zeiss, yang berdiri sejak 1846 dan terkenal akan reputasinya dalam pembuatan instrumentasi optik yang berkualitas, merupakan perusahaan yang dipercaya untuk membuat alat proyeksi cahaya tersebut.
Pada bulan Agustus 1923, proyektor pertama (Model I) ini dipasang di Jena untuk diuji coba, di bawah kubah berdiameter 16 meter. Kemudian pada bulan Mei 1925 proyektor tersebut dipasang secara permanen di Deutsches Museum (Museum Jerman), München. Masyarakat yang menyaksikan pertunjukan perdananya dibuat sangat terpukau. Planetarium pertama ini sempat hancur dalam perang dunia II, tetapi pada tahun 1950-an dibangun kembali.
Sejak hadirnya proyektor yang pertama tersebut, proyektor-proyektor baru dengan berbagai pemutakhiran untuk menghadirkan langit dan isinya pada ruangan berkubah terus bermunculan. Dengan segala kecanggihannya, kini planetarium tak lagi hanya sebuah alat untuk memahami pergerakan benda-benda langit, tetapi juga untuk menjelaskan astronomi secara umum dan luas. Dilengkapi berbagai sarana dan kegiatan yang mendukung, planetarium modern kini telah menjadi tempat wisata yang ilmiah, berekreasi sambil berilmu.
Demikianlah planetarium lahir dari tangan manusia untuk membantu manusia memahami alam semesta dan memahami posisinya di jagat raya maha luas ini. Planetarium Jakarta yang merupakan satu dari sekian ribu planetarium di seluruh dunia pun berdiri sebagai alat manusia Indonesia yang ingin membuka matanya dalam memandang alam semesta ini
4 Fakta Menarik Planetarium UIN Walisongo Semarang
Seneng sekali rasanya waktu beberapa minggu kmrin bisa berkesempatan mengunjungi ke planetarium UIN Walisongo semarang, kebetulan sekali saat itu adalah liburan semester ganjil sekoah anak, jadi kami bisa rombongan untuk menonton pertunjakan di planetarium UIN Walisongo Semarang.Saat kamu berkunjung ke sana, kami tidak hanya di suguhkan dengan show di ruangan planetarium saja lho, namun kamu juga di beri kesempatan naek ke lantai paling atas yaitu manara pandang, dan kami di persilangkan untuk meneropong menggunakan teleskop yang ada di sana.
Tentunya itu menjadi bertambahnya keseruan kami mengunjungi planetarium UIN Walisongo Semarang
Ini lah beberaoa fakta tentang planetarium UIN SEMARANG yang berhasil kami ramgkum di sini
1. Planetarium Universitas terbesar pertama di Indonesia
menurut MC yang memandu show pada acara itu planetarium UIN Walisongo merupakan salah satu planetarium perguruan tinggi terbesar di Indonesia. Planetarium UIN Walisono ini mempunya luas +/- 18 Meter.2. Planetarium UIN Walisongo Semarang merupakan planetarium terbesar ke 3 di dunia
Pemandu acara pada show pada itu juga mengatakan bahwa Planetaruim UIN Walisongo merupakan planetarium terbesar peringkat 3 di dunia, dengan luas 18 meter.3. Planetaruim UIN Walisongo Semarang merupakan salah satu tempat aktifitas Rukyatul Hilal.
Planetarium UIN Walisongo yang menggabungkan fungsi observatorium dan planetarium, juga sudah dilengkapi dengan teknologi digital terbaik atau digistar 6. Sehingga tak heran jika kegiatan Rukyatul Hilal, yaitu aktivitas mengamati visibilitas hilal baik saat penentuan awal Ramadan maupun penentuan Syawal bisa di lakukan di sini
4. Planetarium UIN Walisongo sudah menggunakan digital projector dengan kualitas 4K dan screen dome menggunakan teknologi nanosame.
“Kualitas sound surround juga sudah 4.0 dolby surround dengan kapasitas kursi penonton mencapai 190 orang,” menjadi daya Tarik tersendiri untuk planetarium yang ada di universitas UIN Walisongo ini.Tempat dan Jam Show Planetarium UIN Walisongo Semarang.
- Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo yang berada di Tambakaji, Kec. Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Tepatnya di Kampus III.
- Untuk jadwal show saat ini belum ad kepastian show setiap hari untuk umum, pengalaman kami kemarin bisa melihat show planetarium dan tau jadwal shownya kami check di IG nya @planetariumuinws
- Untuk dewasa : Rp 30,000
- Anak-anak : Rp 20, 000
- Rombongan Diskon min 40 15%
- Dewasa : Rp 35.000
- Anak-anak: Rp 25.000
- Rombongan Diskon min 40 15%
- Cipitas Akademika UIN Walisongo : Diskon 50% .



Post a Comment
Post a Comment